Sunday, May 10, 2020

thumbnail

Tentang Dolly Surabaya Dan Sejarahnya


 yaitu nama sebuah daerah lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak Tentang Dolly Surabaya dan Sejarahnya

Dolly atau Gang Dolly yaitu nama sebuah daerah lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di daerah lokalisasi ini, perempuan penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding beling ibarat etalase.

Konon lokalisasi ini yaitu yang terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di daerah itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.


Bicara soal Dolly, tak banyak yang tahu wacana bagaimana sejarah lokalisasi ini berdiri sampai bisa besar dan populer ibarat sekarang.

Sejarah mencatat, daerah Dolly rupanya dahulu yaitu tempat pemakaman warga Tionghoa pada zaman penjajahan Belanda. Namun pemakaman ini disulap oleh seorang Noni Belanda berjulukan Dolly sebagai tempat prostitusi khusus bagi para tentara negeri kincir angin itu. Bahkan keturunan tante Dolly juga disebut-sebut masih ada sampai kini malah tidak meneruskan bisnis esek-esek ini.

Sebagai pelopor komplek lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya ini maka perempuan dengan sebutan tante Dolly itu kemudian dikenal sebagai tokoh melegenda wacana asal muasal terbentuknya gang lokalisasi prostitusi tersebut.

Dalam beberapa dongeng tutur masyarakat Surabaya, awal pendiriannya, tante Dolly hanya menyediakan beberapa gadis untuk menjadi pekerja seks komersial. Melayani dan memuaskan syahwat para tentara Belanda. Seiring berjalannya waktu, ternyata pelayanan para gadis asuhan tante Dolly tersebut bisa menarik perhatian para tentara untuk tiba kembali.

Dalam perkembangannya, gang Dolly semakin dikenal masyarakat luas. Tidak hanya prajurit Belanda saja yang berkunjung, namun warga pribumi dan saudagar yang berdagang di Surabaya juga ikut menikmati layanan PSK. Sehingga kondisi tersebut kuat kepada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK.

Dolly juga berkembang menjadi menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Terdapat lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut dan panti pijat plus yang berjejer rapi. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, hebat pijat siap menunjukkan layanan kenikmatan kepada para pengunjung.

Tidak hanya itu, Dolly juga menjadi referensi hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkait menjalin sebuah simbiosis mutualisme.

Kisah lain wacana Dolly juga pernah ditulis Tjahjo Purnomo dan Ashadi Siregar dalam buku berjudul "Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Kompleks Pelacuran Dolly" yang diterbitkan Grafiti Pers, April 1982. Dalam buku itu disebutkan dulu daerah Dolly merupakan makam Tionghoa, mencakup wilayah Girilaya, berbatasan dengan makam Islam di Putat Gede.

Baru sekitar tahun 1966 daerah itu diserbu pendatang dengan menghancurkan bangunan-bangunan makam. Makam China itu tertutup bagi mayit baru, dan kerangka usang harus dipindah oleh hebat warisnya. Ini mengundang orang mendapat tanah bekas makam itu, baik dengan membongkar bangunan makam, menggali kerangka jenazah, atau cukup meratakan saja.

Setahun kemudian, 1967, muncul seorang pelacur perempuan berjulukan Dolly Khavit di daerah makam Tionghua tersebut. Dia kemudian menikah dengan pelaut Belanda, pendiri rumah pelacuran pertama di jalan yang kini berjulukan Kupang Gunung Timur I. Wisma miliknya antara lain berjulukan T, Sul, NM, dan MR. Tiga di antara empat wisma itu disewakan pada orang lain. Demikian asal muasal nama Dolly.

Dolly semakin berkembang pada kurun tahun 1968 dan 1969. Wisma-wisma yang didirikan di sana semakin banyak. Adapun persebarannya dimulai dari sisi jalan sebelah barat, kemudian meluas ke timur sampai mencapai sebagian Jalan Jarak.

Belakangan, ramai dibicarakan bahwa tempat prostitusi ini bakal ditutup oleh pemerintah setempat. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu pemain film utama yang ingin jikalau tempat-tempat lokalisasi di daerah Surabaya ditutup. Alasannya, lokalisasi selalu menjadi muara kasus human trafficking yang kian menjadi akhir-akhir ini.

Pertanyaannya, mampukah sang wali kota menutup Dolly? Pasalnya, Dolly juga diyakini menjadi salah satu penyumbang APBD terbesar setiap bulannya bagi pemerintah Surabaya, berkisar sampai puluhan miliar rupiah, uang yang masuk dari praktik haram itu ke pemerintah daerah Surabaya.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments