Thursday, April 9, 2020

thumbnail

Sejarah Muara Rino Kutai Kartanegara Kaltim

Asal Muasal Nama Muara Badak
Mendengar nama Kecamatan Muara Badak, imajinasi orang terutama yang gres pertama kali mendengar dan belum pernah berkunjung mengarah kepada binatang Badak yang bertubuh gempal, berkulit tebal, bercula dan bahagia berendam di kubangan. Di sini, berdasarkan imajinasi orang, ada habitat binatang Badak. Paling tidak pernah ada jenis binatang tersebut yang pernah hidup di kecamatan yang kaya sumber daya alam ini.

Imajinasi tersebut memang tidak salah, karena banyak kampung, desa, kecamatan atau wilayah diberi nama sesuai dengan ciri khas kampung tersebut. Misalnya, di Kota Samarinda, ada kampung yang diberi nama Kampung Buaya, karena di kampung itu ada penangkaran buaya.

Namun manakala menghubungkan nama Kecamatan Muara Badak dengan nama binatang Badak, berdasarkan para tetuha atau tokoh kecamatan itu salah besar. Pemberian nama ‘Badak pada kecamatan (yang dulunya kampung/desa itu) tidak punya korelasi sama sekati dengan nama binatang Badak.

Versi Pertama

Konon, berdasarkan penuturan salah seorang tokoh Muara Badak, H. Abdul Wahab HAR, nama Muara Badak itu muncuat pada awal tahun 1806. Ihwat cerita, ketika itu, leluhur Abdul Wahab HAR yang memperoleh konsesi untuk mendiami wilayah tersebut dari Sultan Kutai, menerima kunjungan dari kerabat Kesultanan Kutai.

Dalam perjalanan dari Tenggarong, menyisir Sungai Mahakam, rombongan kerabat Kesultanan Kutai itu mengagumi pohon-pohon besar yang berada di tepi sungai.

Saat mendarat, kekaguman itu memuncak manakala menyaksikan melihat pohon Tempura Badak (memiliki tinggi 40 m, mempunyai buah yang butat yang sanggup dibentuk bubur. Sekarang sudah punah) di muara perkampungan yang dituju.

‘Bada lehh!!!” seru kerabat Sultan Kutai yang memimpin rombongan itu, berseru memuji dan kagum melihat pohon itu. Sontak, rombongan penyambut yang terdiri dari suku pendatang (Bugis) dan suku orisinil (Kutai) mengartikan bahwa nama kampung mereka yang gres dan belum punya nama itu, Kampung Muara Badak, karena permintaan kagum kerabat Sultan itu.

Setelah ada komitmen yang berawal dari ketidaksengajaan, semenjak ketika itu nama Muara Badakdipakai untuk perkampungan gres itu. Menyinggung perihal versi lain yang menyampaikan bahwa nama Muara Badak itu disebabkan adanya binatang Badak, Abdul Wahab HAR membantahnya.”Sejak kecil hingga sekarang, saya tidak pernah melihat Badak di sini,” ucap tokoh masyarakat yang dilahirkan di Muara Badak, 4 Mei 1947 itu.

Versi Kedua

SEPERTI yang diketahui bahwa kerajaan Kutai Ing Martadipura ialah kerajaan tertua di Indonesia. Dulu, orang tidak mengenal. Kalimantan Timur melainkan Tanah Kutai dan pada tahun 1806 ada seorang berjulukan Ismail (lsmaila) beserta keluarga dan rombongannya berlayar dari Sulawesi Selatan menuju tanah Kutai dengan memakai bahtera phinisi.

Mereka mengarungi lautan luas meninggalkan Sulawesi menuju Tanah Kutai karena tidak tahan terhadap perlakuan pemerintah Kerajaan Belanda yang dijalankan dengan sangat kejam serta perlakuan di luar batas kemanusiaan.

Setibanya di Tanah Kutai, dilihatnya hutan tumbuh subur hingga muncullah keinginannya dalam hati akan membuka perkebunan kelapa. Namun sebelum niat lsmaila tersebut terlaksana, is terus berlayar menuju Tenggarong menghadap Sultan Kutai dengan maksud untuk meminta tanah perkebunan di erat pantai.

Ismaila diterima baik oleh Sultan Kutai. Dengan tekad yang baik disertai niat yang tulus, maka dalam pertemuannya dengan Sultan dibicarakanlah apa keinginannya. Kesimpulannya Sultan mengabulkan impian Ismaila. Bahkan dengan kemurahannya Sultan menunjukkan wilayah untuk dipilih mulai dari wilayah Kutai Lama hingga pantai bahari mana saja yang disukai Ismaila dan kalau sudah menerima tempat yang disenangi maka ia diminta untuk melapor pada Sultan.

Setelah menghadap Sultan Kutai, Ismaila kembali menyusuri pantai sambil melihat-lihat keadaan pantai dan hutannya. Satu hari satu malam Ismaila menyusuri pantai dan pada pagi harinya ia melihat sebuah sungai yang sesuai dengan pesan orang-orang renta dahulu. Sungai yang menyusu pada bahari sangat elok ditempati untuk berusaha. Karenanya berlabuhlah Ismailah di muara sungai tersebut.

Hari itu bertepatan hari Senin. Setelah sarapan pagi ia memasuki sungai tersebut sepanjang kurang lebih 2 km. Karena perahunya tidak bisa lagi masuk ke dalam, maka berlabuhlah ia di tempat itu yang selama ini kita kenal Toko Lima.

Ketika itu sekoci diturunkan untuk digunakan masuk ke dalam sungai untuk menilik apakah tanahnya dan keadaan sekitarnya cocok atau tidak ibarat yang diinginkan. Belum jauh Ismaila dari bahtera besarnya, ia melihat buah kayu BADAK dan tidak jauh dari tempat itu tampak pohon- pohonnya dan kebetulan Ismaila melihat sepasang warak yang sedang berlari.

Kurang lebih 6 km dari muara di temukanlah Tanah Tinggi, maka bertahanlah Ismaila di tempat tersebut untuk menilik keadaannya. Wilayah itu sangat disukainya. Wilayah tersebut kemudian kita kenal dengan nama Muara Badak.

Nama Muara Badak ialah derma dari Ismaila (orang yang pertama membuka wilayah) karena ia menemukan adanya pohon warak dan binatang warak dan sumber lain menyampaikan Muara Badak dulu berjulukan Kuala Badak.

Versi Ketiga

Di samping versi di atas, ada juga versi lainnya. Konon, Muara Badak zaman dahulu masih merupakan hutan belantara dan rawa-rawa yang tak berpenghuni. Sekitar tahun 1825 tiga orang perantau suku Bugis yakni Wa Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto beserta sembilan orang Joa (pesuruh) melaksanakan perjalanan meninggalkan Tanah Ogi (bugis) untuk mencari tempat pemukiman gres dengan tujuan pulau Kalimantan, kepergian mereka dilatarbelakangi oleh konflik politik dan perang antar-kerajaan yang menunjukkan imbas negatif pada kehidupan masyarakat Sulawesi pada ketika itu.

Misalnya seringnya terjadi perampokan, perampasan hak, pembunuhan dan lain sebagainya. Dengan dasar tersebut ketiga orang yang merupakan suku Bugis Bone Sulawesi Selatan yang masih mempunyai darah keturunan dengan Raja Bone meninggalkan daerah kelahiran mereka.

Dalam perjalanan panjang tersebut pada suatu hari La Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto jadinya hingga di daerah tujuan sebuah pantai (saat ini Muara Badak).

Karena kelelahan Wa Sennang tertidur. Dalam tidurnya tersebut ia bermimpi memasang beta (perangkap ikan) dan menerima ikan yang banyak. Pada ketika bangkit untuk Shatat Subuh ia kemudian mengajak ketiga saudaranya untuk meneruskan perjalanan ke arah muara pantai dan menyampaikan bahwa mereka sudah hingga di tempat yang diimpikan.

Lalu kemudian Wa Sennang menyuruh kedua saudaranya Wa Ukku dan Wa Alto untuk mengambilnair ke sungai sambil melihat kondisi di dalamnya. Dari hasil laporan pembantunya Wa Sennang bersama Wa Ukku dan Wa Alto kembali melaksanakan “survey” di tempat mengambil air tersebut.

Selang beberapa jam, kemudian masuklah mereka semua bersama rombongan memakai bahtera dan sandar/berlabuh pertama (di daerah yang ketika ini disebut gang Keramat di Desa Muara Badak Ulu) dan kemudian mereka melihat daerah ini sangat baik dan cocok untuk di jadikan tempat tinggal dimana kondisinya yang masih higienis ikan-ikan di sungainya masih sanggup terlihat, dan berdasarkan pengamatan Wa Sennang dengan mengambil cara melihat orang-orang renta terdahulu, sungai Muara Badak bermuara/menyusu ke muara bahari di mana matahari terbit atau ke arah timur yang berdasarkan mitos Bugis daerah tersebut sangat baik untuk ditempati dan mempunyai masa depan yang cerah.

Maka semenjak ketika itu mulailah mereka menentukan daerah sebelah kiri muara sungai dan kemudian memulai pekerjaan merintis dan membabat hutan yang masih sangat perawan. Dengan kesabaran, ketabahan, keuletan, dan ketekunan jadinya mereka berhasil membuka tahan pemukiman, selama melaksanakan acara tersebut mereka hanya makan buah-buahan yang ada di hutan. Termasuk mereka menemukan buah yang disebut dengan “tampara badak” sebagai cikal bakal nama Muara Badak.

Mengetahui daerah yang akan ditempati ialah merupakan wilayah kekuasaan kesultanan Kutai, maka Wa Sennang meminta izin kepada kerabat kerajaan Kutai yang diberikan kekuasaan wilayah, termasuk Muara Badak ketika itu oleh sultan Kutai yaitu Adji Biduk, anak pertama dari isteri pertama Adji Muhammad Salehuddin untuk membuka daerah pemukiman.

Maka kerabat kerabat kerajaan ketika itu Adji Biduk bersama rombongan tiba mengunjungi tempat yang dimaksud oleh Wa Sennang, karena begitu kagum dengan daerah tersebut secara impulsif Adji Biduk berucap dengan bahasa Kutai yang kental “Badak leh…bagus beneh tempat ini yo!”

Dan ia ungkapan tersebut Wa Sennang dan kawan-kawan secara impulsif juga mengatakan/menyahuti dengan logat Bugis “lye’ Asenna Muara Badak” dikarenakan mereka sebelumnya lebih dulu mengetahui ada buah Tampara warak yang ada di muara, maka semenjak ketika itu di sebutlah wilayah ini sebagai Muara Badak.

Hari, minggu, bulan dan tahun berganti, kehidupan warga dan masyarakat di daerah yang pertama dibuka oleh Wa Sennang, Wa Ukku dan Wa Alto semakin berkembang dan penghuninya bertambah, daerah yang tadinya hutan rimba kini bermetamorfosis daerah pemukiman yang ramai dan dipenuhi kebun kelapa hingga ke muara pantai.

Masyarakat penghuninya pun bermacam-macam suku, namun lebih mayoritas suku Kutai dan Bugis ketika itu. Walau pun masyarakatnya plural (berbeda suku) namun kerukunan dan kedamaian di wilayah tersebut selalu terjaga hingga turun temurun.

Pustaka – SEJARAH MUARA BADAK
Tim Kreatif Sdr. Fitri

Sumber : Dikutip eksklusif dari https://www.facebook.com/pages/Muara-Badak-Menuju-MURI/252706728181483
Tags :

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments