Monday, March 16, 2020

thumbnail

Renungan : Betapa Keluarga Begitu Sangat Berharga

Semoga Kita dapat mengambil hikmah dari RENUNGAN ini RENUNGAN : Betapa Keluarga Begitu Sangat BerhargaSemoga Kita dapat mengambil hikmah dari RENUNGAN ini, Bahwasanya Keluarga Sangatlah Berharga.

Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi impulsif saya. Ia juga berkata: “Maafkan saya juga.” Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun kisah jadi lain, begitu hingga di rumah. Pada hari itu juga, dikala saya sedang menelphone salah satu kolega terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih simpati kolega saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri rahasia di belakang saya. Saat saya berbalik,
hampir saja membuatnya jatuh. "Minggir!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat saya berbaring di daerah tidur malam itu, dengan halus, Tuhan berbisik, "Akan kusuruh malaikat menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, saya akan izinkan kau melihat lorong waktu sehabis kematianmu. Sewaktu kau berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, adat kesopanan kau gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan atasanmu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"

Lalu saya pun melihat, hari itu dikala jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku, dan ada yg hanya menulis 3 abjad singkat, 'RIP'.

Lalu teman-temanku sekantor, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, kemudian mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. Bos yg saya hormati, hanya tiba sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit pribadi pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang saya lihat.

Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan istriku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta saya bangun, namun istriku menghalaunya. istriku pingsan berkali-kali, saya tidak pernah melihat ia sekacau itu. Lalu saya teringat betapa sering saya acuhkan panggilannya yg mengajakku mengobrol, saya selalu sibuk dengan hpku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, kemudian saya lihat anak2ku.. Sering kuhardik dan kubentak mereka dikala saya sedang asik dengan ponselku, dikala mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.

kemudian saya melihat tujuh hari semenjak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, hingga detik ini saya tidak mendengar saya mendapat doa mereka untukku, perusahaan telah menggantiku dengan karyawan lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.

Namun, saya melihat istriku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes dikala anak2ku bertanya dimana papah mereka? Aku melihat ia begitu lunglai dan pucat, kemana gairahmu istriku?
Oh Ya Allah Maafkan aku..

Hari ke 40 semenjak saya tiada.
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua tetapkan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, bosku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.

Lalu kulihat keluargaku, istriku sudah dapat tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 masih ribut menanyakan kapan papahnya pulang, yang paling kecil yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan saya datang.

Lalu 15 tahun berlalu.
Kulihat istriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai keliatan guratan bau tanah dan lelah diwajahnya, ia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa ini hari jumat, jangan lupa kekuburan papah, jangan lupa berdoa setiap sholat, kemudian saya membaca goresan pena disecarik kertas milik putriku malam itu, ia menulis.. "Seandainya saja saya punya papah, niscaya tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku, tidak akan saya lihat mamah sakit2an mencari nafkah seorang diri buat kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil papahku, saya butuh papahku Ya Allah.." kertas itu basah, niscaya lantaran airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku..

Sampai bertahun2 anak2 dan istriku pun masih terus mendoakanku setelah sholat, biar saya selalu berbahagia diakherat sana.

Lalu seketika,, saya terbangun.. Dan terjatuh dari dipan.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata saya cuma bermimpi..

Pelan-pelan saya pergi ke kamar anakku dan berlutut di erat daerah tidurnya, masih saya lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang saya menghardik mereka..
“Anakku, papah sangat menyesal alasannya yaitu sudah berlaku bernafsu padamu.“Si kecilku pun terbangun dan berkata, “Oh papah, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
“Anakku, saya mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan saya anakku” Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.
Lalu kulihat istriku tertidur, istriku yang sapaannya sering kuacuhkan, ajakannya bicara sering kali saya sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering saya anggap tak bermakna, maafkan saya istriku, maafkan aku.

Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jikalau kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai kisah yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, saya tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.
Lalu saya rebahkan diri disamping istriku, ponselku masih terus bergetar, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk saya buka, tapi tidak.. tidak..

Aku matikan ponselku dan saya pejamkan mata, maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku.. keluarga yang jikalau kita tinggalkan yang akan mencicipi sangat kehilangan.

Sumber : blog-kumpulaninformasi.blogspot.com
Tags :

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments